Assalamu Alaikum,alangkah indahnya jika setelah membuka blog ini,buku tamunya di isi,......

Sabtu, 31 Maret 2012

CONCRETE MIXING PLANT

1. Combining our own experience with European technology, Xinda manufactures environmental protection type concrete pre-mixing facilities. Our products come with automatic twin-computer synchronization-controlling system that is capable of controlling and managing production flow with one or two computers. Our versatile products find wide application for pre-cast pipes, components, dam construction and marine construction.
Mixing systems1. Adapting twin-shaft compulsory mixer powerfully mixes evenly and quickly with . This mixer is efficient for high-performance, semi-high-performance and high-strength concrete. The design of the multi-angle mixing arm, prevents round axis ballingphenomenon. Assembled with high wear-resistant ceramic scaleboard from Canada, the mixers durable use life is up to 200,000 cans.

2. The reducing system has closed p anetaryreducer with catdan shaft synchronization ofhigh-speed shafts.
3. The central zed greasing system controlc all greasing points with fixing position,fixing time and fixing quality.

Aggregates BatcherThe aggregates batcher can be designed for earth batcher,semi-earth batcher and ground batcher.The aggregate hoppers design can handle from 3 to 5 hoppers.The hopper dischange gates are controlled by computer to pneumatic cylinders which discharge the aggregates into the weighing hopper through either fast orslow speeds.The weighing of aggregates can be designed for either independent weighing or cumulative weighing.
Mixing Frame
1. The mixing tower is modular structure .All parts in piant are combined by bolts and nuts. It is convenient for install ation and disassembly .The plant seals are foam sandwich steel plates fordust prevention ,heat insulation,
2. The plant layout can be designed to "一","L","T" configurations.
The powder of transportation and measure
According to the place and according to the construction,road,and irrigation works etc of character,it could be designed again to content the different of people`s requirement.
The Liquid weighing system1. The weighing system uses a high sensitive sensorThe water pump pulls the water into weighing hopper, the air-drive butterfly controls the flow , weighs it and and,when finished it flows through two pipes into the mixer.The additive weighing is the same process.
2. The additive process has a special protection device to protect against leaking; the measurement uses a push/pull sensor for weghing hopper, and when the measurement of additive is over,it mixes the additive and the water that is ejected into the mixer.
Aggregate conveying system1. The aggregate conveyer belt is truss frame with quick assembly configuration .The inclination angle is nominally less than 20 degrees . If the chevron patterm belt is used the inclination angle will be less than 27degrees. The belt tension device is the weight dropping type for easy adjustment ..
2. The conveyer is sealed completely.
Computer control system1. All control systems use an industrial style computer for control. The material weighing, transportation, mixing, and it discharge are all handled automatically. is the computer can be operated either by automatic control, or manual control. It is very user friendly.
2. The control screen shows the working process, so it can display the various ratio anddata and then print various reports.
Environmental protection design1. All systems are designed for environmental protection including the conveying, dosing, weighing, feeding and mixing processes. The mixer and cement weighing hopper have pipes with negative pressure which connect to the dust filter.
2. The labyrinth dust resistance device is installed in the aggregate inlet.
Ready-mix Concrete Batching Plant schematics

1. 4 bins Batcher 5. Control roorn
2. Level Be1t 6. Mixing storey
3. Inclined Belt 7. Weighing storey
4. Gasline Systern


Concrete mixing plant for road and railway construction
Models
HZS50
HZS75
HZSI00
HZS150
HZS200
Production (m3/h)
50
75
100
150
200
(Mixer)
(Models)
JS1OOOIМSO1500
JS1500IМS02250
JS20001МA03000
JS30001МA04500
JS40001МA06000
(Mixing Power)(kw)
2Х22
2Х30
2Х37
2Х55
2Х75
(output)(m3)
1
1.5
2
3
4
(Aggregate Size)(mm)
<=60
<=80
<=120
<=150
<=150
(Hopper)
(Hopper Capacity)(m3)
13
15
20
30
30
(Hopper Quantity)
4
4
4
4
4
Conveyor Capability
200
300
400
600
800
(Scope and Precision of Weighing)
(Aggregate)(kg)
4ХI500±2%
4Х2500±2%
4Х3000±2%
4Х3600±2%
4Х4800±2%
(Cement)(kg)
600±1%
900±1%
1200±1%
1800±1%
2400±1%
(Coalash)(kg)
200±1%
300±1%
400±1%
600±1%
800±1%
(Water)(kg)
300±1%
500±1%
600±1%
800±1%
1000±1%
(Admixture)(kg)
30±1%
30±1%
50±1%
50±1%
100±1%
Total Power (kw)
96
120
J40
190
230
Height of Discharge(m)
>=3.8
>=3.8
>=3.8
>=3.8
>=3.8

READ MORE- CONCRETE MIXING PLANT

ASPALT MIXING PLANT

Asphalt Mixing Plant adalah suatu unit mesin atau peralatan yang digunakan untuk memproduksi material campuran antara aspal dengan material agregat batu.
Proyek-proyek pembangunan jalan tol perkerasan lentur maupun pelapisan ulang (overlay), umumnya mensyaratkan kontraktor untuk menggunakan asphalt mixing plant untuk produksi material lapis perkerasan seperti asphalt concrete.
Penggunaan asphalt mixing plant dimaksudkan untuk memproduksi material campuran perekerasan lentur dengan jumlah yang besar dengan mutu dan keseragaman campuran tetap terjamin (homogen).
Material batu pecah yang terdiri dari material batu pecah ukuran 1/2,abu batu.0/5 di panaskan bersama dalam satu wadah yang disebut drier amp setelah melewati waktu tertentu di salurkan ketempat pencampuran antara material tadi dengan aspal yang telah di timbang, kesemua bahan tadi di campur di suhu 160 derajat tidak boleh lebih dari angka itu karena akan mengakibatkan aspal hangus,amp yang kami punya (bukan gambar di postingan ini) berkapasitas 800 kg sekali charge,sistem pembakarannya menggunakan batu bara,sistem operasional amp digital dan dapat pula dilakukan manual
by zulham efendi(pt. harfia graha perkasa,bulukumba)
READ MORE- ASPALT MIXING PLANT

Kamis, 29 Maret 2012

BAHAN LAPIS KERAS


BAHAN LAPIS KERAS

Yang dimaksud dengan bahan lapis keras adalah semua bahan susun yang diperlukan untuk membuat perkerasan jalan meliputi
agregat, aspal, bahan tambah (additive) serta bahan stabilisasi tanah dasar jika diperlukan khususnya untuk jalan yang dibuat pada daerah dengan tanah dasar yang jelek.

 I. LAPIS KERAS JALAN

Lapis keras jalan adalah bagian dari struktur jalan yang terletak di atas tanah dasar atau subgrade yang dibuat keras agar dapat dilalui lalu lintas yang lewat di atasnya.
Tujuan pembuatan lapis keras jalan adalah agar dapat dicapai suatu kekuatan tertentu sehingga mampu meneruskan beban beban lalu lintas yang diterima oleh lapis keras ke dalam bidang yang lebih luas pada tanah dasar, sehingga beban beban tersebut dapat didukung oleh tanah dasar.
Pada umumnya, lapis keras jalan dapat digolongkan menjadi tiga golongan besar yaitu :
-flexible pavement
- rigid pavement
- composite pavement
Dalam hal ini, yang akan dibahas hanya bahan dari lapis keras yang masuk ke dalam golongan flexible pavement, karena untuk bahan yang digunakan pada rigit pavement sudah dibahas panjang lebar pada matakuliah teknologi beton.

II.PERANCANGAN PERKERASAN

Pada umumnya Perancangan Perkerasan dapat dibedakan atas dua pengertian yaitu :
1.> Structural Pavement Design
(Perancangan Struktur Perkerasan)
Yaitu menentukan tebal dari pavement beserta komponen-komponennya antara lain :
Menentukan tebal :
 surface course
 base course untuk flexible pavement
 sub base course
 subgrade

 plat beton
 lapis fondasi untuk rigid pavement
 lapis pasir
 subgrade
2. >Paving Mixture Design
(Perancangan Campuran Perkerasan)
Yaitu tahapann yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan dilapangan dimulai yang bertujuan untuk menentukan kualitas bahan susun yang akan digunakan serta proporsi campuran bahan yang akan digunakan untuk bahan perkerasan.
Misal :
 Menentukan jenis aspal yang akan dipakai serta perbandingan jumlah aspal dengan batuan
 Menentukan gradasi serta jenis batuan
 Menentukan mutu beton serta perbandingan campuran antara semen, pasir
krikil (untuk rigid pav)
 Dll

III. BAHAN LAPIS KERAS

Bahan utama perkerasan jenis flexible pavement pada umumnya terdiri dari bahan yang disusun sebagai berikut :
bahan pengikat : aspal
bahan pengisi : agregat kasar, agregat halus, filler.


ASPAL
Aspal merupakan salah satu bahan pengikat perkerasan yang paling banyak dipakai di Indonesia.
Disamping harganya relatif murah, aspal juga banyak tersedia di negara kita yang kaya akan minyak mentah yang banyak mengandung aspal.
Aspal merupakan bahan yang termoplastis, yaitu suatu sifat viskositas /kekentalan yang sangat dipengaruhi oleh temperatur. Pada saat temperatur rendah (dingin) aspal akan bersifat keras, dan sebaliknya pada saat temperatur tinggi (panas) aspal akan bersifat lunak, dan lebih bersifat plastis.
Kepekaan terhadap temperatur dari tiap hasil produksi aspal berbeda-beda tergantung dari asalnya, walaupun aspal tersebut diambilkan dari jenis yang sama

Oleh karena hal seperti diatas, maka sebelum kita memakai jenis aspal lebih dahulu perlu kita ketahui aspal tersebut berasal dari mana, sehingga pada proses pencampuran antara agregat dengan aspal dapat ditetapkan temperatur yang paling baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sebagai contoh aspal dari dari jenis yang sama produksi Pertamina akan mempunyai kepekaan temperatur yang berbeda dengan aspal produksi Esso.

Ada beberapa jenis perkerasan yang menuntut perhatian kusus yang ada kaitannya dengan masalah temperatur, yaitu konstruksi perkerasan pada landas pacu (runway). Bahan maupun jenis konstruksi yang dipakai pada landas pacu secara garis besar menyerupai dengan perkerasan pada perkerasan jalan raya. Bedanya pada runway harus mempunyai daya dukung yang lebih besar, dan biasanya temperatur disekitar landas pacu lebih panas. Sehingga dibutuhkan jenis aspal yang lebih tahan terhadap pengaruh temperatur.

Kekuatan aspal & Lama Pembebanan
Di samping itu aspal juga bersifat reologic yaitu suatu sifat yang sangat dipengaruhi oleh lamanya pembebanan. Semakin lama beban beada di atas perkerasan, maka kekuatan aspal akan semakin turun, Sebagai contoh bila aspal dibebani selama satu menit akan sangat berbeda pada aspal yang dibebani pada beban yang sama tapi dalam tempo yang lebih lama misal satu jam. Aspal yang dibebani pada waktu yang lebih lama akan mengalami perubahan geometrik yang lebih besar.
Disamping kedua sifat terebut aspal juga memiliki sifat yang lain yang disebut sifat Tyxotropy yaitu sifat yang dipengaruhi oleh cuaca. Aspal yang disimpan di udara terbuka dalam dalam jangka waktu yang cukup lama akan mengalami penurunan kelenturan atau fleksibilitasnya menurun sehingga aspal akan menjadi kaku. Hal ini akan labih cepat terjadi apabila aspal dalam drum sudah dibuka.

kelenturan dan lama penyimpanan
Aspal juga merupakan bahan yang memiliki kohesi (kemampuan saling tarik-menarik) yang cukup besar. Sehingga aspal merupakan bahan pengikat aggregat yang baik serta memiliki kemampuan untuk mempertahankan agregat supaya tetap ditempatnya sebagai bahan pengisi pada suatu lapis keras.

Aspal juga merupakan bahan yang mudah teroksidasi. Pada udara terbuka, aspal akan mudah beroksidasi dengan udara yang banyak mengandung oksigen, sehingga lama kelamaan permukaan aspal secara perlahan akan menjadi keras dan getas, dan akan kehilangan sifat kohesifnya. Tapi peristiwa oksidasi ini lebih banyak terjadi pada daerah permukaan aspal saja, sehingga biasanya yang mengeras dan yang menjadi getas hanya pada permukaan lapis luarnya sedang lapis aspal bagian dalam tidak banyak mengalami perubahan kecuali hanya perubahan viskositasnya. Pada campuran antara aspal dan agregat, semakin tipis lapisan aspal yang menyelimuti agregat, akan semakin besar tingkat kerapuhan yang terjadi. Lapis aspal yang sudah kehilangan sifat kohesifnya biasanya dikatakan sebagai aspal usang.

Menurut proses terjadinya, aspal dapat dibedakan menjadi dua golongan besar
yaitu :

 aspal alam
 aspal minyak/buatan

Aspal alam
Di Indonesia, jenis aspal ini banyak terdapat di Pulau Buton, sehingga aspal alam ini sering disebut Butas ( Buton Aspal).
Proses terjadinya:
Sebelum di proses lebih lanjut, aspal alam ini terdapat di alam terbuka sebagai batuan sehingga biasa disebut batuan aspal / aspal batu (rock asphalt) atau batuan yang bersifat aspal ( asphaltic rock).
Dalam bentuk aslinya, Butas di P. Buton (Sulawesi Tenggara) berbentuk sebagai lapisan batu berwarna hitam yang kadang-kadang muncul di atas tanah sebagai gunung kecil.
Butas ini dapat terjadi karena pada daerah tersebut banyak mengandung minyak mentah dengan kadar aspal yang cukup tinggi (asphaltic base crude oils).
Minyak yang mengandung aspal (bitumen) ini dapat keluar dari bumi akibat adanya tekanan yang disebabkan oleh proses geologi, kemudian meresap diantara celah-celah lapisan serta batuan yang poros (poreous).
Oleh karena terjadinya Butas disebabkan dari proses alam seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka akibatnya kandungan aspal pada batuan jumlahnya tidak me nentu, artinya kandungan aspal pada batuan sangat bervariasi ada yang kandungannya sedikit dan ada kandungan aspalnya yang banyak.
Di dalam prakteknya, batuan aspal yang ditambang harus diseleksi dulu serta dipilih dari batuan yang memiliki kandungan aspal minimum 25 %.
Karena aspal memiliki sifat termoplastis, maka akibatnya batu aspal ini memiki beberapa sifat diantaranya pada temperatur dingin yaitu pada malam dan pagi hari dengan temperatur 28o ke bawah bersifat getas dan mudah pecah. Sebaliknya pada siang hari dengan temperatur 30o ke atas, batu aspal bersifat liat/ulet dan agak sukar untuk dipecah.
Oleh karena itu pemecahan batu aspal sebaiknya dilakukan pada malam hari atau pagi hari. Kalau dilakukan pada siang hari sebaiknya harus dilakukan pada tempat yang teduh atau beratap.
Karena umur dari batu aspal (yang ditambang) sudah terlalu tua, maka biasanya aspal yang dikandung sudah kehilangan sifat plastisnya. Tapi justru batu aspal seperti inilah yang mudah dikerjakan dari pada jenis batu aspal yang sifatnya plastis yang masih banyak mengandung minyak.
Sebaliknya untuk keperluan pengaspalan jalan dibutuhkan aspal yang agak cair supaya mudah pengerjaannya dan bersifat lentur, sehingga tahan terhadap getaran dan pukulan roda kendaraan. Oleh karena itu pada batu aspal/butas perlu ditambahkan flux oil (minyak pengencer) yang mengandung minyak mentah sehingga aspalnya menjadi lebih encer (diremajakan).
Batu butas yang banyak dipergunakan sekarang kira-kira mengandung bagian2 sebagai berikut :
- Aspal murni (bitumen) berat rata-rata sekitar 30 %
   Debu kapur (debu mineral) ,, ,, ,, 55 %
    Pasir ,, ,, ,, 15 %

   Dari hasil penelitian pada butas dapat diambil kesimpulan :
   Kadar bitumen sangat bervariasi
   Kualitas bitumen ber beda-beda
   Komposisi batuan ber beda-beda
   Berdasarkan kadar bitumen yang dikandungnya, Butas dapat dibedakan atas B25, B30, B35, B40.
   Sebagai contoh untuk Butas B30, berarti butas tersebut memiliki kadar bitumen rata2 sebesar 30 %.

Aspal minyak/aspal buatan
Yang dimaksud dengan aspal minyak atau aspal buatan adalah aspal yang diperoleh dari hasil penyaringan minyak mentah (crude oils).
Minyak mentah atau minyak kasar adalah minyak yang didapat secara langsung dari hasil tambang (belum diolah).
Pada saat diproses akan didapatkan jenis-jenis minyak yang masing-masing dibedakan atas berat jenisnya.
Bahan yang dikandungnya setelah melalui proses penyaringan yang dimulai dari BJ yang paling kecil adalah sbb:

 Avtur
 gasoline (bensin)
 kerosine (minyak tanah)
 diesel oils (solar)
 minyak pelumas/olie
 BJ yang paling besar ada tiga kemungkinan :
a) aspal, dikatakan minyak mentah memiliki dasar aspal (asphaltic base crude oils)
b) parafin, dikatakan minyak mentah memiliki dasar parafin (paraffin base crude oils)
c) campuran antara aspal dan parafin, dikatakan minyak mentah memiliki dasar campuran (mixed base crude oils)
Jadi minyak mentah belum tentu dapat menghasilkan aspal.
Bila dilihat dari proses pembuatannya serta bahan dasarnya, jenis aspal dibedakan atas bentuknya ada tiga macam :

 aspal keras (cement asphalt)
 aspal cair (liquit asphalt)
 aspal emulsi (emulsified asphalt)

Aspal keras (aspal semen / aspal penetrasi)
Semen jenis ini disebut aspal keras karena pada suhu biasa (temperatur ruang) aspal jenis ini bersifat keras dan padat. Untuk memanfaatkan/menggunakan semen jenis ini harus dipanaskan dulu sehingga menjadi panas dan mencair.
Untuk menentukan kekerasannya/kekentalannya digunakan standar penetrasi.
Proses pemeriksaan penetrasi mengikuti standar AASTHO T 49-80.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara memasukkan jerum penetrasi berdiameter 1 mm dengan beban seberat 100 gram (sudah termasuk berat jarumnya). Waktu yang dibutuhkan untuk memasukkan jarum penetrasi selama 5 detik dengan temperatur aspal sebesar 77o F atau 25o C. Besarnya penetrasi diukur dan dinyatakan dengan angka yang merupakan kelipatan 0,1 mm. Misal masuknya jarum penetrasi sedalam 5 mm, maka 5 mm dibagi dengan 0,1 mm adalah 50, dikatakan angka penetrasi aspal sebesar 50. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa tambah kecil angka penetrasi aspal maka aspal tersebut akan semakin keras.

Beberapa contoh jenis aspal ini a.l. :
AC 40-50
AC 50-60
AC 60-70
AC 80-100
AC 120-150
dst.
Oleh karena itu pemakaian perkerasan yang berkualitas tinggi perlu dipilih jenis aspal semen yang akan dipakai dengan melihat angka penetrasinya.
Untuk daerah bercuaca panas atau untuk jalan dengan volume lalu-lintas yang tinggi digunakan jenis aspal semen dengan penetrasi rendah, sedang aspal semen dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah yang bercuaca dingin atau untuk jalan dengan volume lalu-lintas rendah.
Di Indonesia aspal semen yang banyak dipakai yaitu aspal semen dengan penetrasi 60-70 dan 80-100..

Aspal Cair (liquit asphalt)
Yang dimaksud dengan aspal cair yaitu jenis aspal yang dibuat dengan mencampur Aspal semen dengan bahan pencair, yaitu minyak yang dihasilkan dari penyaringan minyak mentah. Dari hasil pencampuran di atas menghasilkan aspal yang berbentuk cair dalam temperatur ruang, sehingga untuk menggunakannya tidak diperlukan pemanasan kecuali untuk hal-hal yang kusus.
Berdasarkan bahan pencairnya dan kemudahan menguap bahan pelarutnya, aspal cair dapat dibedakan atas :

a. RC ( Rapid Curing Asphalt)
Yaitu jenis aspal cair yang dibuat dari pencampuran antara semen aspal dengan bensin (Asphalt Cement (AC) + gasoline). Jenis aspal ini merupakan jenis aspal cair yang paling cepat menguap. Akibatnya kalau kita memakai aspal cair dari jenis ini tidak boleh terlalu lama menunda pekerjaan karena aspal akan lebih cepat mengeras.
b. MC (Medium Curing Ashalt)
Yaitu jenis aspal cair yang dibuat dari pencampuran antara semen aspal dengan bahan pencair yang lebih kental yaitu minyak tanah (Asphalt Cement (AC) + kerosine). Jenis aspal ini merupakan jenis aspal cair yang penguapannya lebih lambat bila dibandingkan dengan jenis RC.
c. SC ( Slow Curing Asphalt)
Yaitu jenis aspal cair yang dibuat dari pencampuran antara semen aspal dengan bahan pencair yang lebih kental lagi yairu solar ( Asphalt Cement (AC) + diesel oils). Jenis aspal ini merupakan jenis aspal cair yang penguapannya paling lambat bila dibandingkan dengan dua jenis di atas. Boleh dikatakan bahwa aspal cair jenis SC ini merupakan jenis yang paling rendah mutunya bila dibandingkan dengan dua type di atas, sebab daya ikatnya kalau sudah mengeras tidak sebaik yang di atas.

Pada prakteknya, aspal cair ini banyak digunakan sebagai bahan perekat lapis perkerasan atau biasa disebut pelaburan, untuk perbaikan lapis permukaan jalan yang berlubang, dan untuk lapis perkerasan dengan mutu sedang dan rendah yang tidak membutuhkan persyaratan yang ketat, dll.
Jenis pelaburan/pengeleman lapis keras ada bermacam-macam antara lain : prime coat, tack coat, seal coat.
Prime coat :
Adalah jenis pelaburan yang pertama kali dilakukan untuk merekatkan antara base course (lapis fondasi) dengan lapis permukaan.
Tack coat :
Adalah jenis pelaburan yang dilakukan untuk merekatkan antara lapis yang lama
dengan lapis yang baru untuk jalan yang di upgrade pada saat dilakukan overlay (memberikan lapisan tambahan perkerasan ).
Seal coat
Pelaburan yang dilakukan untuk merekatkan antara permukaan jalan yang berlubang dengan lapisan penutupnya. Jadi Seal coat hanya dilakukan pada pekerjaan penambalan jalan yang dilakukan secara sepotong-sepotong (hanya dilaburkan pada permukaan jalan yang berlubang saja).
Karena aspal cair merupakan bahan yang berasal dari pencampuran antara benda padat dan benda cair, yang kualitasnya sangat tergantung dengan bahan pencairnya dan juga perbandingan jumlah campurannya, maka hasil campuran merupakan hasil aspal baru dengan kekentalan dan kualitas yang berbeda-beda. Berdasarkan nilai viskositas pada temperatur 60o C, aspal cair dapat dibedakan atas :

RC 30 - 60 MC 30 - 60 SC 30 - 60
RC 70 - 140 MC 70 - 140 SC 70 - 140
RC 250 - 500 MC 250 - 500 SC 250 - 500
RC 800 - 1600 MC 800 - 1600 SC 800 - 1600
RC 3000- 6000 MC 3000- 6000 SC 3000 - 6000

Aspal Emulsi
Pada dasarnya, suatu emulsi terdiri dari dua jenis cairan yang sulit untuk dapat bercampur. Aspal Emulsi adalah jenis aspal yang diperoleh dari campuran aspal dengan air. Dalam proses pembuatannya, salah satu bahan tersebut didispersikan / dibaurkan dalam bentuk butir-butir yang sangat halus, yang dicampurkan dengan proses kimiawi.
Di dalam pelaksanaannya, aspal merupakan fase yang didispersikan, sedang air merupakan fase pencairnya.
Didalam temperatur ruang aspal emulsi ini dalam kondisi cair (tidak keras).
Berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya aspal emulsi dapat dibedakan atas tiga macam :

 Aspal emulsi Kation
 Aspal emulsi Anion
 Aspal emulsi Nonion.

Dari ketiga jenis aspal tersebut yang biasa dipergunakan sebagai bahan perkerasan jalan adalah aspal emulsi Kation dan Anion.

Aspal emulsi Kation :
Aspal jenis ini biasa juga disebut sebagai Aspal Emulsi Asam, merupakan jenis aspal emulsi yang bermuatan arus listrik positip.
Sifat istimewa Aspal Emulsi Kation adalah bahwa aspal akan cepat mengering dan bekerja untuk mengikat batuan / agregat walaupun batuan tersebut mengandung air. Sifat ini sangat menguntungkan untuk daerah-daerah yang banyak mengandung air (sering hujan), daerah bersalju, daerah yang berikilim dingin, dapat juga untuk klas jalan yang tidak begitu tinggi.

Aspal Emulsi Anion :
Aspal jenis ini biasa juga disebut sebagai Aspal Emulsi Alkali, merupakan jenis aspal emulsi yang bermuatan arus listrik negatip.
Pada jenis Aspal Emulsi Anion proses pelekatan batuan hanya dapat terjadi pada batuan yang kering saja. Kecepatan reaksi/proses pelekatan lebih lambat bila dibandingkan dengan jenis Aspal Emulsi Kation.
 Pada prakteknya jenis aspal ini hanya dipakai sebagai bahan untuk menambal jalan yang berlubang, perbaikan jalan sementara dan pembuatan jalan dengan mutu rendah.

Aspal Emulsi Nonion
Merupakan jenis aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi, berarti tidak mengantar listrik. Aspal jenis ini tidak biasa dipakai sebagai bahan perkerasan jalan, tetapi baik untuk bahan pengisi pada dilatasi jembatan, penambalan atap dll.
Kelebihan aspal emulsi bila dibandingkan dengan aspal keras hanya pada segi pelaksanaan konstruksi lebih sederhana dan praktis karena dapat dilakukan tanpa harus dilakukan pemanasan lebih dulu. Untuk Indonesia aspal jenis ini harus dibeli dari luar negri, sehingga harganya relatip mahal bila dibandingkan dengan aspal keras.
Berdasarkan kecepatan pengerasannya, aspal emulsi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
RS ( Rapid Setting ) aspal emulsi paling cepat bereaksi
MS (Medium Setting) aspal emulsi lebih lambat bereaksi
SS (Slow Setting ) aspal emulsi paling lambat bereaksi


PENGUJIAN KUALITAS ASPAL
Cara menentukan kualitas aspal dapat dilihat dari besar kecilnya nilai Penetrasi, Berat jenis, Kelekatan aspal terhadap agregat, Titik nyala (clev and open cup) , Titik bakar, Titik lembek, Kelarutan dalam cairan Carbon Tetra Chlorida (CCL4) dan Daktilitas.

Penetrasi.
Yaitu angka yang menunjukkan kekerasan aspal yang diukur dari kedalaman masuknya jarum penetrasi yang diberi beban 100 gram selama 5 detik pada suhu ruang 25o C. semakin besar nilai penetrasinya, maka semakin lunak aspal tersebut dan sebaliknya.


Berat Jenis
Yaitu angka yang menunjukkan perbandingan berat aspal dengan berat air pada volume yang sama pada suhu ruang. Semakin besar nilai berat jenis aspal, maka semakin kecil kandungan mineral minyak dan partikel lain di dalam aspal. Semakin tinggi nilai berat jenis aspal, maka semakin baik kualitas aspalnya. Berat jenis aspal minimal sebesar 1,0000.

Kelekatan aspal terhadap agregat
Yaitu angka yang menunjukkan prosentase luasan permukaan agregat batu silikat yang masih terselimuti oleh aspal setelah agergat tersebut direndam selama 24 jam. Kelekatan aspal yang tinggi dapat diartikan bahwa aspal tersebut memiliki kemampuan yang tinggi untuk melekatkan agregat sehingga semakin baik digunakan sebagai bahan ikat perkerasan. Nilai kelekatan aspal yang baik minimal sebesar 85 %.

Titik nyala aspal
Yaitu angka yang menunjukkan temperature (suhu) aspal yang dipanaskan ketika dilewatkan nyala penguji di atasnya terjadi kilatan api selama sekitar 5 detik. Syarat aspal AC 60/70 titik nyala sebesar minimal 200 oC

Titik bakar aspal
Yaitu angka yang menyatakan besarnya suhu aspal yang dipanaskan ketika dileawatkan nyala penguji diatas aspal terjadi kilatan api lebih dari 5 detik. Semakin tinggi titik nyala dan titik bakar aspal, maka aspal tersebut semakin baik. Besarnya nilai titik nyala dan titik bakar tidak berpengaruh terhadap kualitas perkerasan, karena pengujian ini hanya berhubungan dengan keselamatan pelaksanaan khususnya pada saat pencampuran (mixing) terhadap bahaya kebakaran.

Titik lembek aspal (Ring and Ball test)
Yaitu angka yang menunjukkan suhu (temparatur) ketika aspal menyentuh plat baja. Titik lembek juga mengindikasikan tingkat kepekaan aspal terhadap perubahan temperature, disamping itu titik lembek juga dipengaruhi oleh kandungan paraffin (lilin) yang terdapat dalam aspal. Semakin tinggi kandungan paraffin pada aspal, maka semakin rendah titik lembeknya dan aspal semakin peka terhadap perubahan suhu.


Kelarutan aspal dalam cairan Carbon Tetra Chlorida (CCl4)
Yaitu angka yang menunjukkan jumlah aspal yang larut dalam cairan CCl4 dalam prosen setelah aspal digoncang atau dikocok selama minimal 20 menit. Angka kelarutan aspal juga menunjukkan tingkat kemurnian aspal terhadap kandungan mineral lain. Semakin tinggi nilai kelarutan aspal, maka aspal semakin baik.

Daktilitas aspal
Yaitu angka yang menunjukkan panjang aspal yang ditarik pada suhu 25o C dengan kecepatan 5 cm/menit hingga aspal tersebut putus. Daktilitas yang tinggi mengindikasikan bahwa aspal semakin lentur, sehingga semakin baik digunakan sebagai bahan ikat perkerasan.
Syarat aspal yang baik adalah sebagai berikut:
No. Jenis Pemeriksaan Syarat Satuan
Pen 60/70 Pen 80/100
Min Maks Min Maks
1. Penetrasi 25oC, 5 det 60 79 80 99 0,1 mm
2. Titik lembek 48 58 46 54 oC
3. Titik nyala dan titik bakar 200 - 225 - oC
4. Kehilangan berat 163oC, 5 jam - 0,4 - 0,6 % berat
5. Kelarutan dalam CCl4 99 - 99 - % berat
6. Daktilitas 25oC, 5 cm/menit 100 - 100 - cm
7. Penetrasi setelah kehilangan berat 75 - 75 - % terhadap asli
8. Penetrasi aspal hasil ekstraksi benda uji 55 - 55 - % terhadap asli
9. Daktilitas aspal hasil ekstraksi benda uji 40 - 40 - cm
10. Berat jenis (25OC) 1 - 1 - -
Sumber : Depkimpraswil, 2000.

IV. PEMILIHAN ASPAL

Aspal atau bitumen merupakan material untuk membuat perkerasan yang berfungsi sebagai pengikat apabila dicampur dengan agregat dan berfungsi sebagai perekat apabila digunakan sebagai Prime coat atau Tack coat.
Adapun klasifikasi aspal dapat dibedakan berdasarkan penetrasi, kekentalan, aspal cair dan aspal emulsi.

a. Klasifikasi aspal berdasarkan nilai penetrasi
nilai penetrasi adalah kedalaman jarum penetrasi dengan beban 100 gr selama 5 detik pada suhu 25 o C masuk ke dalam aspal dalam satuan 0,1 mm.
Jenis –jenis aspal berdasarkan nilai penetrasi adalah :

AC 40-50
AC 60-70 (100 gr / 5 dtk / 0,1 mm)
AC 85-100
AC 120-150
AC 200-300
Sedangkan klasifikasi aspal berdasarkan nilai penetrasi menurut British Standart (BS.3690) adalah sebagai berikut:
Pen. 15  5 Pen 70  10
Pen. 25  5 Pen 100  20
Pen. 35  7 Pen 200  30
Pen. 40  10 Pen 300  45
Pen. 50  10 Pen 450  65

b. Klasifikasi berdasarkan nilai kekentalan yang didapat dari uji kekentalan adalah sbb:
1) Saybolt Furol (SF)
Aspal suhu 60 o C mengalir melalui pipa  1/8” untuk mengisi labu dengan volume 60 ml. Waktu pengisian menunjukkan kekentalan SF (detik).
2) Kinematis dengan satuan Centi Stokes (cst)
3) Satuan cgs 1 gr/cm –sec, atau 1 dyne – sec/cm 3 , disebut poise (P)
S 1unit 1 pa –s (1N – s/m 2 ) disebut 10 P
4) Thin Film Oven Test yaitu kehilangan berat aspal dalam % berat
Rolling Thin Film Oven yaitu karakteristik aspal setelah RTFO test untuk menentukan grading aspal semula dinyatakan dalam AR (age residu ) –viscosity graded series.
Jenis –jenis aspal menurut kekentalannya adalah:
AC 2,5 Asphalt Cement – angka menunjukkan
AC 5 kekentalan pada 60 o C (140 o F) dalam satuan
AC 10 100an poises (toleransi  20%)
AC 20
AC 40
AR 1000 Age Residu – angka menunjukkan kekentalan
AR 2000 setelah uji RTFO pada suhu 60 o C ( 140 o F)
AR 4000 dalam satuan poises (toleransi  25 %)
AR 8000
AR 16000

c. Aspal cair
Aspal yang merupakan hasil olahan dari aspal keras yang dicairkan dengan menggunakan bahan pencair sepeti kerosen, bensin atau solar.
Aspal cair diklasifikasikan berdasarkan kecepatan penguapan (Rapid Curing, Medium Curing, Slow Curing). Jenis aspal cair terdiri dari:
Rapid Curing (RC) 0 30 angka menunjukkan kekentalan dalam satuan
Medium Curing (MC) 1 70 cst pada suhu 60 o C
Slow Curing (SC) 2 250
3 800
4 3000
5
d. Aspal Emulsi
yang dibuat dari aspal keras + Emulsifier + air
bila dilihat dari muatan listrik pada partikel aspalnya, aspal emulsi dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
- Kationik, yaitu apabila partikel aspalnya bermuatan listrik positif
- Anionik, jika partikel aspalnya bermuatan listrik negatif
- Nonionik, jika partikel aspalnya tidak bermuatan listrik (netral)
Adapun bila ditinjau dari kecepatan pengikatan terdiri dari 3 macam yaitu:
- Rapid setting (RS) yaitu aspal emulsi yang memiliki kecepatan pengikatan paling cepat,
- Medium Setting (MS) yaitu aspal emulsi yang memiliki kecepatan pengikatan menengah (medium)
- Slow setting (SS) yaitu aspal emulsi yang memiliki kecepatan pengikatan paling lama.
Pemilihan jenis aspal disesuaikan dengan jenisnya pekerjaan yang akan dilakukan (CRS,CMS.CSS) tergantung kecepatan pengikatan
kelebihan :
- mudah pengerjaannya
- penggunaan alat bervariasi (dari alat berat sampai ringan)
- ramah lingkungan
- cocok untuk campuran dingin (
Cold mix), Tack Coat dan Prime Coat
- paling cocok untuk slurry seal

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan pilihan jenis aspal yang akan digunakan dalam membuat perkerasan adalah:
1. faktor lalu lintas
2. faktor iklim
3. peralatan yang tersedia
4. gradasi agregat
5. jarak angkut
6. volume pekerjaan
7. tuntutan lingkungan
8. tenaga kerja
9. lain –lain

1. Faktor lalu lintas
Faktor lalu lintas akan mempengaruhi jenis aspal yang akan digunakan adalah jumlah lintasan lalu lintas yang diukur dengan ESAL (ekivalen standart axle load) dan kecepatan lalu lintas.

a. jumlah lintasan
Semakin banyak jumlah lintasan pada suatu jalan yang akan dibuat, maka jenis aspal yang akan digunakan harus mempunyai viskositas yang tinggi yang ditunjukkan dengan nilai penetrasi, karena nilai penetrasi yang rendah akan mempunyai nilai stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan nilai penetrasi yang tinggi.
Sebagai contoh untuk jalan negara atau jalan tol harusnya menggunakan aspal dengan nilai penetrasi 40 –70 ( misal AC 40-50 atau AC 60-70). Apabila perkerasan yang melayani beban lalu lintas yang cukup besar (>1 juta SAL) menggunakan aspal AC 80-100 atau penetrasi yang lebih tinggi, maka akibat yang ditimbulkan adalah akan terjadi kerusakan yang lebih cepat sebelum tercapai umur rencana. Adapun kerusakan yang mungkin terjadi diantaranya adalah fracture dan rutting.

b. kecepatan kendaraan (speed)
Kecepatan kendaraan akan mempengaruhi lama pembebanan terhadap perkerasan. Untuk perkerasan yang melayani kendaraan dengan kecepatan rendah seharusnya menggunakan aspal dengan nilai penetrasi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan perkerasan yang melayani kendaraan cepat. Sebagai contoh untuk perkerasan terminal dimana banyak kendaraan yang parkir, sehingga lama pembebanan terhadap perkerasan cukup tinggi, maka jenis aspal yang digunakan harus menggunakan aspal dengan penetrasi rendah misal AC 40-50 atau AC 60-70. Adapun pengaruh kecepatan terhadap perkerasan adalah sebagai berikut:
kecepatan akan mempengaruhi lama pembebanan dan berakibat pada perubahan temperatur perkerasan yang akan berpengaruh pada nilai E perkerasan.
nilai modulus kekakuan perkerasan sangat tergantung oleh modulus kekakuan aspalnya yang dipengaruhi oleh temperatur aspal dan lama pembebanan.
Akibat yang akan terjadi apabila salah dalam memilih aspal ditinjau dari kecepatan kendaraan adalah terjadinya kerusakan perkerasan jenis deformasi seperti bleeding dan rutting.
Untuk memilih aspal berdasarkan kecepatan lalu lintas apabila menggunakan aspal jenis Performance Grade diperlukan koreksi sbb:
a. untuk lalu lintas lambat dan beban berhenti seperti tempat parkir, terminal masing masing dinaikkan 1 grade.
b. Untuk jumlah lalu lintas (ESAL) 1 juta –30 juta atau >30 juta masing –masing dinaikkan 1 grade.

2. Iklim
Faktor iklim mempunyai peran yang cukup besar dalam menentukan jenis aspal yang akan digunakan. Faktor iklim tersebut meliputi:
a. panas/dingin yang berhubungan dengan suhu udara yang akan mempengaruhi suhu perkerasan
b. basah/kering yang akan mempengaruhi kadar air perkerasan.
c. Temperatur perkerasan yang dipengaruhi oleh temperatur udara dan letak geografis.
d. Ketinggian lokasi dari muka air laut yang akan mempengaruhi suhu udara dan tekanan udara yang akhirnya akan berpengaruh terhadap temperatur perkerasan.
Memilih aspal berdasarkan suhu udara berhubungan dengan nilai penetrasi, pada daerah dingin lebih cocok apabila digunakan aspal dengan penetrasi tinggi sedangkan pada daerah tropis lebih cocok menggunakan aspal penetrasi rendah (viskositas tinggi). Kerusakan perkerasan yang diakibatkan karena kesalahan pemilihan aspal pada kasus ini adalah bleeding, deformasi, rutting. Untuk mengatasi apabila aspal yang tersedia tidak sesuai yang diinginkan, maka dapat digunakan bahan aditive.

3. Peralatan yang tersedia (equipment) :
Peralatan untuk melaksanakan pekerjaan jalan yang harus dipertimbangkan dalam memilih aspal meliputi :
alat pencampur (AMP & molen)
alat penggelar
alat pemadat
alat yang akan digunakan akan berpengaruh terhadap produktifitas kerja dan pemilihan jenis aspal. Semakin baik jenis alat yang digunakan maka semakin leluasa dalam memilih jenis aspal, tetapi apabila alat yang tersedia kurang memadai, maka jenis aspal yang digunakan harus memberikan kesempatan pangerjaan yang lebih lama. Sebagai contoh apabila dilapangan alat yang tersedia hanya alat sederhana (alat pencampur, penggelar, pemadat), maka aspal yang digunakan adalah aspal penetrasi 200,300 dst atau aspal cair jenis SC dsb.
Akibat yang ditimbulkan apabila terjadi kesalahan pemilihan aspal melihat alat yang tersedia, maka akan sulit untuk mendapatkan hasil yang optimal karena saat pencampuran, penggelaran, pemadatan tidak memenuhi syarat khususnya syarat temperatur pencampuran, penggelaran, pemadatan.


4. Gradasi agregat
Gradasi agregat dibedakan menjadi 3 yaitu : gradasi menerus (rapat), gradasi terbuka dan gradasi timpang. Gradasi terbuka maupun gradasi timpang memiliki rongga yang lebih besar jika dibandingkan dengan gradasi rapat, hal ini akan berpengaruh terhadap kemudahan aspal untuk memasuki rongga antar butiran agregat. Jenis aspal yang cocok untuk gradasi timpang maupun gradasi terbuka adalah aspal yang memiliki viskositas (kekentalan ) yang tinggi sedangkan untuk gradasi rapat jenis aspal yang cocok adalah aspal dengan kekentalan sedang sampai rendah. Disisi lain kebutuhan aspal pada gradasi timpang maupun gradasi terbuka akan membutuhkan aspal yang lebih besar jika dibandingkan dengan gradasi menerus, perbedaan tersebut disebabkan karena prosentase rongga antar agregat.

5. Jarak angkut antara AMP dengan lokasi pekerjaan.
Jarak angkut akan mempengaruhi dalam pemilihan jenis aspal, hal ini disebabkan karena jarak angkut yang cukup jauh memungkinkan terjadinya penurunan temperatur yang cukup besar sehingga untuk mendapatkan suhu pemadatan yang memenuhi syarat akan kesulitan. Tetapi apabila suhu pencampuran dinaikkan untuk mendapatkan suhu pemadatan yang sesuai dengan spesifikasi, maka aspalnya yang mengalami kerusakan akibat pemanasan yang berlebihan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dalam menentukan jenis aspal untuk jarak yang jauh seharusnya digunakan aspal yang tidak begitu peka terhadap perubahan temperatur, misal dengan menggunakan bahan aditive atau menggunakan aspal cair maupun aspal emulsi.

6. Volume pekerjaan
Volume pekerjaan dibedakan antara volume kecil dan volume besar, hal ini akan berpengaruh terhadap pemilihan jenis aspal yang akan digunakan. Untuk pekerjaan dengan volume kecil tentunya alat yang digunakan untuk mencampur, menggelar maupun untuk memadatkan adalah alat yang sederhana, sehingga aspal yang digunakan cukup aspal yang memungkinkan digunakan alat yang sederhana tersebut. Jenis aspal yang cocok untuk kasus ini adalah aspal cair, aspal emulsi maupun aspal Buton.

7. Tuntutan lingkungan
Tuntutan lingkungan menyangkut hal apakah dalam melaksanakan pekerjaan jalan tersebut menimbulkan polusi yang dapat mengganggu lingkungan dimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Sebagai contoh pekerjaan jalan pada sebuah rumah sakit, apabila aspal yang digunakan merupakan aspal yang dapat menimbulkan polusi saat pelaksanaan, maka akan mengganggu pasien. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dapat digunakan aspal cair atau aspal emulsi yang dicampur secara dingin (Cold mix) sehingga tidak menimbulkan polusi yang cukup besar.

8. Buruh (labour)
Tenaga kasar (buruh) sebaiknya dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan jenis aspal yang akan digunakan. Hal ini disebabkan karena tenaga kasar yang tidak terlatih akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam melakukan penggelaran sehingga dimungkinkan akan terjadi penurunan suhu yang cukup besar yang berakibat suhu pemadatan menjadi rendah. Hal ini berarti bahwa sebelum pemadatan dilakukan telah terjadi ikatan awal dan akhirnya akan menyebabkan hasil pemadatan yang kurang baik. Untuk mengatasi hal ini, maka aspal yang digunakan sebaiknya aspal yang kurang peka terhadap perubahan suhu ( dapat digunakan bahan aditive yang sesuai) atau menggunakan aspal emulsi maupun aspal cair.


AGREGAT

Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dan sekaligus sebagai bahan pendukung dalam campuran lapis perkerasan jalan. Kandungan agregat di dalam lapis perkerasan jalan berkisar antara 90% - 95% (bila dihitung berdasarkan persentase berat) dan berkisar antara 75% - 85% (bila dihitung berdasarkan persentase volume). Maka akibatnya kestabilan serta mutu perkerasan jalan lebih ditentukan oleh sifat agregat dan kualitas campuran antara agregat dengan material lainnya.

1. Ukuran Agregat
Cara membedakan jenis agregat yang paling banyak dilakukan ialah dengan dida sarkan kepada ukuran diameter butir. Untuk mengetahui ukuran butiran dikenal beberapa ukuran saringan sbb:

# 1,5 “ # No 4 = 4,75 mm # No 80 = 0,177 mm
# 1,0 “ # No 8 = 2,36 mm # No 100 = 0,15 mm
# ¾ “ # No 10 = 2,0 mm # No 120 = 0,12 mm
# ½ “ # No 30 = 0,6 mm # No140 = 0,105 mm
# No 40 = 0,42 mm # No 200 = 0,075 mm
# No 60 = 0,25 mm

Berdasarkan ukuran butirannya, agregat dapat dibedakan atas tiga bagian besar :
Menurut ASTM
 Agregat kasar, yaitu butiran yang tinggal di atas saringan no 4 atau agregat dengan diameter > 4,75 mm
 Agregat halus, butiran yang terletak antara saringan No. 4 - No. 200 atau terletak antara diameter 4,75 mm - 0,075 mm
 Agregat pengisi / abu batu / filler, adalah butiran yang lewat saringan 200
Menurut AASHTO :
 Agregat kasar, yaitu butiran yang tinggal di atas saringan No. 10, atau agregat yang berdiameter > 2mm
 Agregat halus, butiran yang terletak antara saringan No.10 - No. 200 atau terletak antara diameter 2,0 mm - 0,075 mm
 Agregat pengisi / abu batu / filler, adalah butiran yang lewat saringan 200
Bila dilihat dari proses terbentuknya, agregat dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu Agregat Alami dan Agregat Buatan.

Agregat Alami
Yaitu agregat yang sudah terbentuk secara alamiah, jadi agregat ini telah mengalami pengecilan butiran karena proses alam. Sebagai contoh kerikil yang terdapat di sungai yang mengalir. Kerikil ini mengalami pengikisan pada dinding luarnya akibat gesekan-gesekan dengan material lainnya di sungai, sehingga biasanya bentuk dari kerikil sungai agak bulat-bulat / agak tumpul.

Agregat Buatan
Disebut Agregat Buatan karena keberadaannya akibat rekayasa manusia. Misal Split, batu pecah dll. Material ini diperoleh dari hasil pemecahan alat pemecah batu (stone crusher)
Agregat buatan yang kedua yaitu agregat yang dahulunya tidak ada kemudian dibuat menjadi ada ( aficial agregat )
Agregat ini biasanya memiliki kualitas yang baik dan bentuk yang baik, karena kuaitas dan bentuk dapat ditentukan pada saat proses pembuatan. Jenis agregat ini antara lain:
Slag ( agregat yang terbuat dari limbah nikel)
Klelet (agregat yang terbuat dari limbah pengecoran logam)
ALWA (Artificial Light Weight Aggregate) yaitu agregat yang terbuat dari tanah lempung yang dibakar pada suhu tertentu.
Agregat dari pecahan genting beton
dll
2. Bentuk Agregat
Bentuk dari agregat sangat penting untuk di bahas mengingat bentuk dari agregat akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kestabilan lapis perkerasan yang dibentuk oleh agregat itu sendiri.
Bentuk dari agregat akan berpengaruh terhadap kemampuan geser, saling mengunci diantara agregat, yang pada akhirnya akan berpengaruh langsung kepada kestabilan perkerasan.
 
a.Bulat (rounded)
Yaitu agregat yang mempunyai diameter ke segala arah relative sama.
Agregat yang berbentuk bulat bila dilihat dari proses terbentuknya termasuk Agregat Alami. Bentuk agregat semacam ini banyak dijumpai di sungai-sungai. Bentuk yang bulat ini diakibatkan oleh adanya pengikisan oleh air dan material kecil lainnya, atau oleh gesekan sesama batuan, sehingga menyebabkan keausan pada dinding luar batuan yang pada akhirnya dapat menyebabkan bentuk menjadi tumpul dan bulat. Ada beberapa kelemahan pada agregat bulat bila dipakai untuk konstruksi perkerasan antara lain:
a. luas bidang kontak sesama agregat kecil
b. kemampuan mengunci sesama agregat kecil
c. akibat a dan b sesama agregat mudah tergelincir
Oleh karena itu perkerasan yang memakai agregat yang berbentuk bulat tidak akan memiliki stabilitas tinggi. Disarankan untuk agregat bulat hanya dipakai pada konstruksi perkerasan klas menengah dan bawah.

b.Lonjong (elongated)


Agregat berbentuk lonjong banyak dijumpai di sungai atau di bekas endapan sungai. Agregat dapat dikatakan lonjong bila ukuran terpanjangnya > 1,8 kali diameter rata-rata. Pada umumnya sifat mekanis yang ada pada agregat lonjong hampir sama dengan agregat yang berbentuk bulat. Sehingga agregat yang berbentuk lonjong juga tidak menguntungkan bila dijadikan bahan untuk perkerasan yang bermutu tinggi.

c. Kubus (cubical)
Ada juga yang mengatakan agregat berbentuk kubus itu dengan agregat bersudut.
Agregat berbentuk kubus akan banyak dijumpai pada material yang dihasilkan dari mesin pemecah batu (stone crusher).
Kelebihan agregat berbentuk sudut ini terhadap konstruksi perkerasan jalan :
a. luas bidang kontak sesama agregat relatif tinggi
b. kemampuan mengunci (interlocking) antar agregat tinggi
c. akibat a dan b antar sesama agregat sulit tergelincir
Akibat hal diatas maka perkerasan yang memakai agregat yang berbentuk kubus/bersudut akan memiliki stabilitas yang tinggi, dan bahan ini sangat cocok untuk perkerasan yang bermutu tinggi.

d. Pipih

Agregat dikatakan pipih bila agregat tersebut memiliki diameter terpendek maksimal 0,6 kali diameter rata-rata. Agregat berbentuk pipih akan mudah pecah pada saat pencampuran, pemadatan, ataupun akibat beban lalu-lintas. Di samping itu kepipihan agregat berpengaruh jelek terhadap daya tahan lapis keras, karena agregat ini pada kedudukan rata air (horisontal) mudah menjebak gelembung udara sehingga akan memperbesar rongga udara pada campuran.
Oleh karena itu banyaknya agregat pipih biasanya dibatasi, disarankan jumlah agregat pipih tidak lebih dari 15%.

3. Tekstur Agregat
Tekstur agregat diartikan sebagai kondisi alamiah permukaan agregat yang berhubungan dengan kekasaran dan kehalusan.
Pada umumnya tekstur agregat dapat dibedakan atas beberapa tingkatan :
 sangat halus / licin (glassy)
 halus (smooth)
 granular
 kasar (rough)
 berkristal (crystalline)
 berpori
 berlubang-lubang.
Tekstur permukaan akan sangat tergantung kepada kekerasan bahan dasar, ukuran molekul, dan besar gaya yang bekerja pada permukaan butiran yang telah mempengaruhi tekstur permukaan tersebut.
Bahan agregat yang keras, padat, berbutir kecil-kecil umumnya menjadikan permukaan butiran agregat bertekstur halus.
Biasanya untuk kebutuhan lapis perkerasan, agregat yang paling disukai adalah jenis perkerasan yang bertekstur kasar.
Kelebihan agregat bertekstur kasar :
 mempunyai kekuatan geser yang besar
 ikatan antar partikel lebih kuat sebab bahan ikat (aspal) lebih kuat di dalam mencengkeram agregat.
Akibat dari dua hal di atas maka campuran akan bersifat :
 mempunyai stabilitas tinggi
 lebih mampu menahan deformasi yang akan timbul akibat gaya-gaya yang berasal dari luar.
Daya Lekat Terhadap Aspal
Faktor yang mempengaruhi lekatan aspal dan agregat dapat dibedakan atas dua bagian yaitu :
a. Sifat mekanis yang tergantung pada
 kadar pori dan absorbsi
 bentuk dan tekstur permukaan
 ukuran butiran
b. Sifat kimiawi agregat
Agregat berpori akan menyerap aspal lebih baik, sehingga ikatan antara aspal dengan agregat biasanya baik. Agregat yang berpori terlalu banyak akan menyerap aspal lebih banyak, sehingga aspal yang menyelimuti agregat akan lebih tipis hal ini akan mengakibatkan cepat lepasnya ikatan antara agregat dengan aspal. Oleh karena itu bila didalam campuran terlalu banyak mengandung agregat berpori dapat menurunkan durabilitas campuran.
Di samping itu agregat berpori umumnya lebih mudah pecah/hancur.
Untuk mengetahui pori - pori dapat didekati dengan menghitung banyaknya air yang dapat terserap / terabsorbsi oleh agregat.
Untuk itu dapat didekati dengan rumus seperti yang tersebut di bawah ini :
Penyerapan = (Bj - Bk)/Bk x 100%
Bk = Berat benda uji kering oven
Bj = Berat benda uji kering permukaan jenuh
Biasanya agregat untuk lapis perkerasan besarnya penyerapan dibatasi maksimal 3% dan nilai kelekatan agregat terhadap aspal yang disyaratkan minimal sebesar 95%.
Daya Tahan Agregat
Yang dimaksud dengan daya tahan agregat adalah kemampuan agregat untuk mempertahankan diri terhadap kehancuran baik oleh gaya-gaya mekanis ataupun oleh pengaruh kimia.
Akibat hal di atas maka dikenal dua pengertian :
 degradasi, didefinisikan sebagai kehancuran agregat menjadi pertikel yang lebih kecil akibat oleh gaya mekanik yang dapat terjadi pada saat penimbunan, pemadatan, ataupun oleh beban lalu-lintas.
 disintegrasi, didefinisikan sebagai pelapukan pada agregat menjadi butir-butir halus akibat pengaruh kimiawi/alam seperti kelembaban, dan pengaruh perbedaan temperatur yang ber ulang-ulang (siang dan malam).
 Segregasi, yaitu pisahnya agregat antara agregat yang berukuran besar dengan agrgat yang berukuran kecil karena adanya perbedaan berat butiran. Hal ini bisa terjadi karena penimbunan yang terlalu tinggi (lebih dari 3 m) atau karena penuangan dari dumptruk yang terlalu tinggi.
Agregat yang akan digunakan sebagai bahan lapis keras haruslah mempunyai ketahanan terhadap degradasi dan disintegrasi dan pada saat pelaksanaan harus dihindarkan dari kemungkinan terjadinya segregasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat degradasi antara lain :
 jenis agregat, agregat yang lunak akan mengalami degradasi yang lebih besar bila dibandingkan dengan agregat yang keras.
 gradasi, gradasi terbuka mempunyai tingkat degradasi yang lebih besar bila dibandingkan dengan gradasi rapat.
 bentuk agregat, agregat bulat akan mengalami degradasi yang lebih besar bila dibandingkan dengan agregat berbentuk kubus/bersudut.
 ukuran partikel, partikel yang lebih kecil mempunyai tingkat degradasi yang lebih kecil dari pada partikel yang besar.
 energi pemadatan, degradasi akan terjadi lebih besar pada pemadatan dengan energi pemadatan yang lebih besar.


4. Penentuan Tingkat Ketahanan
Ketahanan agregat terhadap penghancuran (degradasi) dapat diperiksa dengan menggunakan alat untuk melihat keausan yaitu alat abrasi Los Angeles (Los Angeles Abrasion Test).
Agregat yang akan diperiksa ditetapkan dulu gradasinya dan dibersihkan dari kotoran (tanah, lumpur dll). Sebelum dimasukkan ke dalam mesin abrasi, agregat terlebih dulu ditimbang dan ditetapkan beratnya. Setelah dicatat beratnya, agregat kemudian dimasukkan ke dalam mesin abrasi bersama dengan bola-bola baja yang jumlahnya sudah ditentukan. Kemudian mesin abrasi Los Angeles diputar dengan kecepatan sekitar 30 - 33 rpm selama 500 putaran. Setelah selesai agregat dikeluarkan dari mesin abrasi kemudian disaring dengan saringan No. 12. Nilai akhir dinyatakan dengan persen merupakan hasil perbandingan antara berat benda uji yang telah lolos dari saringan No. 12 dengan berat benda uji semula sebelum dimasukkan ke dalam mesin abrasi.
Semakin tinggi nilai persentase benda uji, berarti bertambah besar pula degradasi pada agregat.
Sebagai pedoman dasar di dalam pelaksanaan pemakaian di lapangan, telah diambil patokan sebagai berikut :
 Nilai abrasi < 30 % berarti agregat baik dipakai pada lapis keras sebagai bahan lapis penutup
 Nilai abrasi < 40 % berarti agregat baik dipakai pada lapis keras sebagai bahan lapis fondasi atas
 Nilai abrasi < 50 % berarti agregat baik dipakai pada lapis keras sebagai bahan lapis fondasi bawah.
Ketahanan agregat terhadap kehancuran akibat pelapukan (disintegrasi) pada umumnya diperiksa dengan menggunakan Saundness.
Agregat yang akan diperiksa nilai pelapukannya dicuci dulu untuk menghilangkan kotoran, kemudian dikeringkan sampai kering dan ditimbang. Setelah dicatat beratnya, agregat direndam ke dalam larutan kimia Natrium Sulfat atau Sodium Sulfat sampai jenuh. Agregat kemudian dicuci dan direndam lagi ke dalam larutan kimia berulang-ulang sampai lima kali.
Dengan direndamnya agregat ke dalam Natrium Sulfat, maka secara alamiah larutan kimia tersebut akan masuk ke dalam pori-pori agregat, karena proses kimia, agregat yang tidak kuat akan mengalami kehancuran/pelapukan. Kehilangan berat akibat perendaman dinyatakan ke dalam persen.
Untuk agregat dengan nilai soundness  12% menunjukkan bahwa agregat cukup tahan terhadap pengaruh cuaca dan dapat dipergunakan sebagai lapis permukaan.
Besar kecilnya nilai soundness sangat dipengaruhi oleh jenis kandungan mineral sebagai bahan pendukung pokok agregatnya.

5. Gradasi Agregat.
Yang dimaksud dengan gradasi agregat adalah kombinasi ukuran diameter agregat dalam dalam suatu campuran.
Gradasi agregat dapat dibedakan menjadi 3 jenis :
a. Gradasi seragam (uniform graded)
Adalah agregat di dalam campuran yang memiliki diameter butiran yang hampir sama. Kalaupun mengandung agregat halus, jumlahnya tidak dapat untuk mengisi rongga antar agregat.
Agregat dengan gradasi seragam akan menghasilkan suatu perkerasan yang mempunyai sifat sebagai berikut :
 stabilitas rendah
 fleksibilitas tinggi
 berat volume kecil
Pengalaman di lapangan, gradasi seragam biasanya dihindari untuk segala macam jenis perkerasan karena gradasi seragam membutuhkan banyak aspal, sehingga biaya konstruksi dapat menjadi mahal.
b. Gradasi rapat (dense graded)
Adalah agregat di dalam campuran yang memiliki gradasi kasar sampai dengan gradasi halus dalam porsi yang seimbang atau agregat yang memiliki diameter butiran dari mulai butiran yang kasar sampai dengan yang halus semuanya terdapat dalam keadaan yang seimbang. Oleh karena itu gradasi rapat sering juga disebut sebagai gradasi baik (well graded) atau dapat juga disebut sebagai gradasi menerus (continuous graded). Perkerasan dengan agregat yang bergradasi rapat akan menghasilkan suatu perkerasan dengan sifat sebagai berikut :
 stabilitas tinggi
 fleksibilitas rendah
 berat volume tinggi
Oleh karena itu perkerasan yang menggunakan agregat bergradasi menerus biasanya meliputi jenis perkerasan bermutu tinggi dengan kemampuan yang tinggi pula sehingga sangat cocok untuk jalan-jalan yang dilewati kendaraan-kendaraan berat dengan frekuensi yang tinggi pula. Pada jenis perkerasan ini, bahan agregat yang dipakai juga harus bermutu tinggi, sebab sebelum mendapat tekanan dari beban lalu-lintas di atasnya, masing-masing agregat sudah mendapatkan tekanan yang besar dari hasil pemadatan sebelumnya serta oleh adanya kemampuan saling mengunci antar agregat yang baik. Sehingga pada saat diberi beban akibat berat lalu-lintas, tegangan antar agregat menjadi lebih besar. Kalau mutu agregat kurang bagus maka kemungkinan agregat akan mengalami kehancuran, sehingga akan dapat berakibat terjadinya kerusakan pada konstruksi perkerasan. Pada agregat bergradasi baik biasanya memiliki rongga antar butiran sangat kecil. Sehingga aspal yang terkandung di dalamnya biasanya dalam jumlah yang terbatas.
c. Gradasi buruk (poorly graded)
Biasa juga disebut sebagai gradasi terbuka atau gradasi senjang.
Bahan ini merupakan campuran agregat dengan satu fraksi yang hilang atau terdapat satu fraksi dengan jumlah yang sedikit. Agregat yang bergradasi senjang akan menghasilkan suatu perkerasan yang bersifat :
 fleksibilitas tinggi
 stabilitas lebih rendah (bila dibanding dengan gradasi rapat)
 berat volume lebih rendah (bila dibanding dengan gradasi rapat)
Karena ada salah satu fraksi yang hilang, maka perkerasan yang menggunakan gradasi terbuka biasanya kemampuan penguncian antar butiran kurang sehingga mudah terjadi deformasi antar butiran. Pengalaman di lapangan, untuk meningkatkan stabilitas dapat digunakan filler dengan komposisi tertentu (terlalu banyak justru akan menurunkan stabilitas).

FILLER
Filler adalah salah satu dari bahan lapis keras yang berupa butiran yang lolos saringan No. 200. Fungsi filler adalah sebagai bahan pengisi rongga-rongga antar agregat. Filler yang bercampur dengan aspal akan mengisi rongga-rongga antar agregat, hal ini akan berakibat naiknya stabilitas lapis keras, yang sekaligus akan dapat menurunkan fleksibilitasnya.
Ada beberapa bahan yang dapat digunakan sebagai bahan filler antara lain :
• Abu batu
• Semen
• Kapur
• Pasir halus dll

VI. LAPIS KERAS LENTUR
Pada prinsipnya lapis keras lentur terdiri dari beberapa bagian , dan bila diambil urutan dari atas susunannya adalah sebagai berikut :
• Lapis permukaan (surface course)
• Lapis fondasi atas (base course)
• Lapis Fondasi bawah (subbase course)
• Tanah dasar (subgrade)


1. Lapis Permukaan (surface course)
Merupakan lapis yang paling atas dan berfungsi sebagai :
• Penahan beban roda, lapisan yang pertama kali menerima beban langsung dari roda kendaraan. Lapisan ini harus memiliki stabilitas yang cukup serta fleksibilitas tinggi.

• Lapis kedap air, harus mampu menahan air supaya tidak meresap kedalam badan jalan.
• Lapis aus, yaitu lapisan yang mudah menjadi aus sehingga akan dapat melindungi ban karet kendaraan dari pengaruh gesekan dengan jalan.
• Lapis yang mampu menyebarkan beban kendaraan ke lapis yang ada di bawahnya.
Adapun jenis lapis permukaan yang umum digunakan di Indonesia antara lain :

a. Lapis bersifat non struktural, yaitu berfungsi sebagai lapis aus dan kedap air antara lain :
 Burtu (Laburan Aspal Satu Lapis) merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam dengan tebal maksimum 2 cm
 Burda (Laburan Aspal Dua Lapis) merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat yang diulang dua kali ber turut-turut maksimum tebal padat 3,5 cm
 Latasir (Lapis Tipis Aspal Pasir) merupakan lapis penutup yang terdiri dari
lapisan aspal dan pasir yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas. Lapisan ini ditujukan untuk lapis permukaan pada jalan-jalan dengan lalu-lintas ringan, khususnya untuk daerah yang sulit menyediakan bahan agregat kasar. Campuran latasir biasanya memerlukan tambahan filler agar memenuhi kebutuhan akan sifat-sifat yang disyaratkan. Ketebalan tidak boleh terlalu banyak, khususnya pada jalan-jalan dengan lalu-lintas berat serta pada daerah tanjakan, sebab untuk latasir yang terlalu tebal akan mudah terjadi deformasi.
Sifat-sifat yang dimiliki antrara lain
• fleksibilitas cukup tinggi
• stabilitas rendah
• keawetan cukup tinggi untuk lalu-lintas ringan.
 Latasbum (Lapis Tipis Asbuton Murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran aspal Buton dengan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin, tebal padat maksimum 1 cm.
 Lataston (Lapis Tipis Aspal Beton), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran agregat bergradasi timpang, mineral pengisi (filler) dan aspal keras yang dicampur, dihampar, dan dipadatkan dalam keadaan panas, tebal padat antara 2,5 - 3 cm. Lataston digunakan pada lapis permukaan pada jalan-jalan yang memikul lalu-lintas ringan sampai sedang . Lataston memiliki sifat-sifat antara lain :
• fleksibilitas cukup tinggi
• stabilitas kurang menonjol
• ketahanan terhadap kelelahan cukup tinggi, sehingga memiliki durabilitas/keawetan yang tinggi

b. Lapisan bersifat struktural, berfungsi sebagai lapisan yang menahan dan menyebarkan beban roda :
 Penetrasi Makadam /Lapen, merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dan agregat pengunci bergradasi terbuka yang diikat dengan aspal dengan cara disemprotkan di atasnya dan dipadatkan lapis demi lapis. Aspal yang digunakan adalah dari jenis aspal cair.
 Lasbutag merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran agregat, aspal Buton dengan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin, tebal padat maksimum 3- 5 cm. Agregat yang dipakai sebaiknya bergradasi menerus.
 Laston (Lapis Aspal Beton) merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari cmapuran agregat bergradasi menerus/tertutup dengan aspal keras, yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dengan suhu panas. Lapis perkerasan ini banyak digunakan pada lapis permukaan jalan yang melayani lalu lintas berat, pada daerah tanjakan, pertemuan jalan, dll.
Laston memiliki sifat-sifat antara lain :
• fleksibilitas kurang menonjol
• stabilitas tinggi
Dari sekian banyak jenis lapis keras di atas, yang termasuk keluarga aspa panas (hot mix) adalah : latasir, lataston, dan laston.

2. Lapis Fondasi
Lapis fondasi adalah lapis perkersan yang terletak di bawah lapis permukaan yang berfungsi sebagai lapis yang mampu menyebarkan gaya-gaya yang berasal dari roda kendaraan. Tambah tebal fondasi, gaya-gaya yang disebarkan fondasi ke tanah dasar lebih luas.
Lapis fondasi dibagi menjadi dua lapis, yaitu Lapis Pondasi Atas (LPA) dan Lapis Pondasi Bawah (LPB). Bahan lapis fondasi yang banyak dipakai adalah Sirtu (pasir batu) klas A untuk LPA dan Sirtu klas B untuk LPB. Sirtu klas A memiliki kekerasan serta gradasi yang lebih baik bila dibandingkan dengan sirtu klas B. Oleh karena itu harganya lebih mahal sirtu klas A. Tujuan dari pembedaan mutu semata-mata karena alasan efisiensi.



Dengan adanya penyebaran gaya oleh lapis fondasi, maka tegangan pada LPA akan lebih besar bila dibandingkan dengan tegangan pada LPB, sehingga mutu bahan pada LPA harus lebih baik bila dibandingkan dengan mutu bahan pada LPB.


Macam ayakan Persen berat lolos Persen berat lolos
(mm)
Klas A Klas B
63 100 100
37,5 100 67 - 100
19 65 - 81 40 - 100
9,5 42 - 60 25 - 80
4,75 27 - 45 16 - 66
2,36 18 - 33 10 - 55
1,18 11 - 25 6 - 45
0,425 6 - 16 3 - 33
0,075 0 - 8 0 - 20
Sumber DPU, 1988

Disamping bahan agregat diatas, jenis lapis fondasi yang sering dipakai di Indonesia antara lain adalah :
• Fondasi Makadam, yaitu fondasi yang kekuatannya berdasarkan tumpuan pada material
• Fondasi Telford, yaitu fondasi yang kekuatannya berdasarkan pada kekuatan gesekan antar material
• Penetrasi Makadam (Lapen)
• ATB (Asphalt Treated Base)
• dll
Dalam perjalanannya, komposisi lapis keras mangalami perkembangan. Salah satu susunan lapis keras lentur dapat dilihat seperti yang tampak di bawah ini :


wearing course
binder course
base course
subbase course
compacted subgrade
natural subgrade


3. Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
Di bawah lapis fondasi bawah terdapat lapis tanah dasar (subgrade) yang
merupakan lapis tanah asli yang dipadatkan agar memenuhi persyaratan tertentu Untuk tanah dasar yang kurang memenuhi persyaratan dapat dilakukan dua cara yaitu
• Stabilisasi tanah agar daya dukungnya meningkat
• Penggantian bahan tanah dasar dengan tanah yang bekualitas lebih baik
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat ditentukan oleh sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.
Masalah-masalah yang sering muncul pada tanah dasar antara lain :
• Tanah kurang mampu untuk mendukung beban lalu-lintas, sehingga terjadi lendutan pada lapis perkerasan
• Terjadinya kembang susut yang besar akibat adanya pengaruh air
• Tidak meratanya daya dukung tanah dasar yang diakibatkan oleh tidak homo gennya bahan tanah dasar atau mungkin akibat adanya faktor geologi.

sumber bacaan : http://jap-joniagungpriyanto.blogspot.com
READ MORE- BAHAN LAPIS KERAS

Rabu, 28 Maret 2012

ALAT BERAT DAN KLASIFIKASINYA


Alat-alat berat yang dikenal di dalam ilmu Teknik Sipil adalah alat yang digunakan untuk membatu manusia dalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur. Alat berat merupakan factor penting di dalam proyek, terutama proyek-proyek konstruksi dengan skala yang besar. Tujuan penggunaan alat-alat berat tersebut untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaannya sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah pada waktu yang relative lebih singkat. Alat berat yang umum dipakai di dalam proyek konstruksi antara lain dozer, alat gali (excavator) seperti backhoe, front shovel, clamshell; alat pengangkut seperti loader, truck dan conveyor belt; alat pemadat tanah seperti roller dan compactor; dan lain-lain.
Pada saat suatu proyek akan dimulai, kontraktorakan memilih alat berat yang akan digunakan di proyek tersebut. Pemilihan alat berat yang akan dipakai merupakan salah satu faktorpenting dalam keberhasilan suatu proyek. Alat berat yang dipilih haruslah tepat sehingga proyek berjalan lancer. Kesalahan di dalam pemilihan alat berat dapat mengakibatkan proyek menjadi tidak lancer. Dengan demikian keterlambatan penyelesaian proyek dapat terjadi yang menyebabkan biaya akan mebengkak. Produktivitas yang kecil dan tenggang waktu yang dibutuhkan untuk pengadaan alat lain yang lebih sesuai merupakan hal yang menyebabkan biaya yang lebih besar.
 PENGKLASIFIKASIAN ALAT.
Alat berat dapat dikategorikan ke dalam beberapa klasifikasi. Klasifikasi tersebut adalah klasifikasi fungsional alat berat dan klasifikasi operasional alat. Berat.
1. Klasifikasi Fungsional Alat Berat
Yang dimaksud dengan klasifikasi fungsional alat adalah pembagian alat tersebut berdasarkan fungsi-fungsi utama alat. Berdasarkan fungsinya alat berat dapat dibagi atas berikut ini.
a. Alat Pengolah Lahan
Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan permukaan supaya rata selain dozer dapat digunakan juga motor grader.
b. Alat Penggali
Jenis alat ini dikenal jgua dengan istilah excavator. Beberapa alat berat digunakan untuk menggali tanah dan batuan. Yang termasuk didalam kategori ini adalah front shovel, backhoe, dragline, dan clamshell.
c. Alat Pengangkut Material
Crane termasuk di dalam kategori alat pengangkut material karena alat ini dapat mengangkut material secara vertical dan kemudian memindahkannya secara horizontal pada jarak jangkau yang relative kecil. Untuk pengangkutan material lepas (loose material) dengan jarak tempuh yang relative jauh, alat yang digunakan dapat berupa belt, truck dan wagon. Alat-alat ini memerlukan alat lain yang membantu memuat material ke dalamnya.
d. Alat Pemindahan Material.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah alat yang biasanya tidak digunakan sebagai alat transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material dari satu alat kea lat yang lain. Loader dan dozer adalah alat pemindahan material.
e. Alat Pemadat
Jika pada suatu lahan dilakukan pembunan maka pada lahan tersebut perlu dilakukan pemadatan. Pemadatan juga dilakukan untuk pembuatan jalan, baik tu jalan tanah dan jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk sebagai alat pemadat adalah tamping roller, pneumatic-tired roller, compactor, dan lain-lain.
f. Alat Pemroses Material
Alat ini dipakai untuk mengubah batuan dan mineral alam menjadi suatu bentuk dan ukuran yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan bergradasi, semen, beton, dan aspal. Yang termasuk didalam alat ini adalah crusher. Alat yang dapat mencampur material-material di atas juga dikategorikan ke dalam alat pemroses material seperti concrete batch plant dan asphalt mixing plant.
g. Alat Penempatan Akhir Material
Alat digolongkan pada kategori ini karena fungsinya yaitu untuk menempatkan material pada tempat yang telah ditentukan. Ditempat atau lokasi ini material disebarkan secara merata dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah concrete spreader, asphalt paver, motor grader, dan alat pemadat.
2. Klasifikasi operasional Alat Berat
Alat-alat berat dalam pengoperasiannya dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain atau tidak dapat digerakan atau statis. Jadi klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya dapat dibagi atas berikut ini.
a. Alat dengan Penggerak
Alat penggerak merupakan bagian dari alat berat yang menerjemahkan hasil dari mesin menjadi kerja. Bentuk dari alat penggerak adalah crawler atau roda kelabang dan ban karet. Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada conveyor belt.
b. Alat Statis
Yang termasuk dalam kategori ini adalah towercrane, batching plant, baik untuk beton maupun untuk aspal serta crusher plant.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN ALAT BERAT
Pemilihan alat berat dilakukan pada tahap perencanaan, dimana jenis, jumlah, dan kapasitasalat merupakan factor-faktor penentu. Tidak setiap alat berat dapat dipakai untuk setiap proyek konstruksi, oleh karena itu pemilihan alat berat yang tepat sangatlah diperlukan. Apabila terjadi kesalahan dalam pemilihan alat berat maka akan terjadi keterlambatan di dalam pelaksanaan, biaya proyek yang membengkak, dan hasil yang tidak sesuai dengan rencana.
Didalam pemilihan alat berat, ada beberapa factor yang harus diperhatikan sehingga kesalahan dalam pemilihan alat dapat dihindari. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Fungsi yang harus dilaksanakan. Alat berat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, seperti untuk menggali, mengangkut, meratakan permukaan, dan lain – lain.
2. Kapasitas peralatn. Pemilihan alat berat didasarkan pada volume total atau berat material yang harus diangkut atau dikerjakan. Kapasitas alat yang dipilih harus sesuai sehingga pekerjaan dapat diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan.
3. Cara operasi. Alat berat dipilih berdasarkan arah (horizontal maupun vertical) dan jarak gerakan, kecepatan, frekuensi gerakan, dan lain-lain.
4. Pembaasan dari metode yang dipakai. Pembatasan yang mempengaruhi pemilihan alat berat antara lain peraturan lau lintas, biaya dan pembongkaran. Selain itu metode konsruksi yang dipakai dapat membuat pemilihan alat dapat berubah.
5. Ekonomi. Selain biaya investasi atau biaya sewa peralatan, biaya operasi dan pemeliharaan merupakan factor penting di dalam pemilihan alat berat.
6. Jenis proyek. Ada beberapa jenis proyek yang umumnya menggunakan alat berat. Proyek-proyek tersebut antara lain proyek gedung, pelabuhan, jalan, jembatan, irigasi, pembukaan hutan, dam, dan sebagainya.
7. Lokasi proyek. Lokasi proyek juga merupakan hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan alat berat. Sebagai contoh lokasi proyek di dataran tinggi memerlukan alat berat yang berbeda dengan lokasi proyek di dataran rendah.
8. Jenis dan daya dukung tanah. Jenis tanah di lokasi proyek dan jenis material yang akan dikerjakan dapat mempengaruhi alat berat yang akan dipakai. Tanah dapat dalam kondisi padat, lepas, keras, atau lembek.
9. Kondisi lapangan. Kondisi engan medan yang sulit dan medan yang baik merupakan factor lain yang mempengaruhi pemilihan alat – berat.
 ALAT BERAT PADA MACAM-MACAM PROYEK KONSTRUKSI
Pada setiap proyek ada keunikan dimana tidak semua alat berat perlu dipakai di proyek tersebut. Jenis-jenis proyek yang pada umumnya menggunakan alat berat adalah proyek gedung, pelabuhan, jalan dam, irigasi, dan lain-lain.
1. Proyek Gedung
Alat berat yang umum dipakai di dalam proyek gedung adalah alat pemancang tiang fondasi (pile driving), alat penggali (backhoe) yang digunakan untuk penggalian basement, crane untuk pemindahan vertical, truck untuk pengangkutan horizontal, concrete mixer, dan lain-lain. Concrete mixer digunakan sebagai pencampur adukan beton dan concrete mixer truck sebagai pengangkut campuran beton. Alat pemadat juga sering digunakan untuk memadatkan tanah di sekitar basement.
2. Proyek Jalan
Proyek jalan pada umumnya menggunakan alat gali, truck, dozer, grader, alat pemadat, loader, dan lain-lain. Alat gali digunakan untuk menggali saluran di sekitar badan jalan. Buldozer berfungsi untuk mengupas tanah dan grader untuk membentuk permukaan tanah. Loader digunakan sebagai pemuat tanah ke dalam truck. Untuk jalan dengan perkerasan lentur digunakan asphalt mixing plant yang berfungsi untuk mencampurkan bahan campuran aspal yang kemudian disebarkan, diratakan, dan dipadatkan dengan menggunakan asphalt finisher. Sedangkan untuk perkerasa kaku beton dioleh dengan menggunakan concrete batching plant yang kemudian dipindahkan dengan menggunakan truck mixer.
3. Proyek Jembatan
Alat yang digunakan untuk proyek jembaan antara lain adalah alat pemancang tiang fondasi, alat penggali, crane, truck, concrete mixer atau concrete mixer truck, alat pemadat, dan lain-lain.
4. Proyek Dam
Proyek dam pada umumnya menggunakan alat penggali tanah, crane, truck, concrete mixer atau concrete mixer truck, alat pemadat tanah, loader, bulldozer, grader. Alat penggali tanah yang umumnya dipakai untuk proyek dam berupa backhoe atau front shovel. Concrete mixer digunakan untuk mencampurkan bahan pembuaan beton yang dipakai untuk pembuatan dinding penahan tanah.
SUMBER : hasil copas
READ MORE- ALAT BERAT DAN KLASIFIKASINYA

Screen Crusher stone

Salah satu bagian dari mesin pemecah batu adalah Screen ataw biasa di sebut dengan saringan,seperti yang pernah di tulis,alat ini merupakan bagian terakhir dari crusher stone,yang dari alat inilah beberapa jenis material yang terdiri dari beberapa ukuran di hasilkan.
sistem kerja dari alat ini adalah dengan memberikan  gerakan getaran sehingga tumpahan material yang yang di hasilkan dari proses pemecahan di jwa yang jatuh pada bagian teratas dari alat ini dapat terinduksi menjadi beberapa jenis ukuran material.

Gerakan getaran dari alat ini di hasilkan dari gerakan berputar terkontrol dari bagian AS tengah alat ini yang berbentuk tabung pipa logam padat yang memiliki tonjolan daging logam pada salah satu sisinya,gerakan berputarnya akan menghasilkan gaya yang tidak seimbang di salah satu sisinya,yang mana dari gerakan tidak seimbang inilah yang akhirnya menghasilkan gerakan getaran terkontrol yang pada akhirnya menggerakan screen crusher.

Bagian yang terawan dari alat ini yang sering mengalami kerusakan adalah di bagian bearing,hal ini wajar karena alat ini bekerja di kecepatan dan di suhu yang panas,solusi dari permasalah ini adalah dengan melakukan pelumasan terus menerus yang terkontrol guna menghindarkan terjadinya pergesekan logam yang berat antara bijian bearing.
selain itu lapisan saringan yang terpasang di screen juga mudah terlepas karena gerakan getaran tadi,solusinya adalah dengan selalu melakukan control  dari baut2 pengikat saringan tadi.





READ MORE- Screen Crusher stone